Pembanguan jalan tol Bogor Ring Road sepanjang 11 Km mulai Sentul Selatan (Tol Jagorawi) sampai Dramaga Bogor akan segera terwujud menyusul ditandatanganinya perjajian usaha patungan Jalan (PUPJ) antara PT Jasa Marga dan PT Marga Sarana Jabar.
Pembanguan jalan tol Bogor Ring Road sepanjang 11 Km mulai Sentul Selatan (Tol Jagorawi) sampai Dramaga Bogor akan segera terwujud menyusul ditandatanganinya perjajian usaha patungan Jalan (PUPJ) antara PT Jasa Marga dan PT Marga Sarana Jabar.
Pembangunan jalan tol Bogor Ring Road akan mulai dikerjakan tahun 2007 ini yang dibiayai secara patungan oleh PT Jasa Marga dan PT Jasa Sarana, senilai Rp 1,577 triliun.
Nota kesempahaman (MoU) antara kedua investor ditandatangani Direktur Utama PT Jasa Marga dan Direktur Utama PT Jasa Sarana yang disaksikan oleh Wakil Gubernur Jawa Barat H. Nu’man Abdul Hakim dan Sekretaris Pemerintah Kota Bogor, H. Dody Rosadi di Gedung Golf Bogor Raya, Jum’at siang.
Direktur Utama PT Jasa Marga, Frans S Sunito, mengatakan, setelah ditandatanganinya nota kesepahaman antara kedua investor, segera dilakukan pembebasan lahan oleh Departemen Pekerjaan Umum (DPU) melaui Dinas Bina Marga di daerah. Karena berdasarkan aturan yang berlaku lembaga yang berwenang membebaskan lahan jalan tol adalah DPU yang difasilitasi oleh Pemerintah Daerah. “Kami menilai perizinan untuk membangun Jalan tol ini sangat rumit , sehingga pembangunan Jalan tol yang dikerjakan setahun lalu agar rumit, “ katanya.
Untuk pembebasan lahan, menurut dia, PT Jasa Marga dan PT Jasa Sarana, selaku investor meminjam dana talangan dari pemerintah pusat melalui Departemen Pekerjaan Umum sebesar Rp 600 miliar yang dititipkan pada DPU. Setelah lahannya dibebaskan, maka dana talangan itu akan dibayar oleh investor, katanya.
Dana talangan dari Departemen PU sudah ada, tinggal sekarang pembebasan tanahnya yang akan difasilitasi oleh Dinas Marga daerah Karena itu diharapkan DPU melalui Dinas Bina Marga Bogor bisa membebaskan lahan dalam waktu tiga bulan, sehingga pembangunannya bisa segera dilakukan. Jika lahannya belum dibebaskan seluruhnya, maka pelaksanaan pembangunanya juga belum bisa dilakukan.
Kalau hal ini terjadi akan berakibat terhambatnya pembangunan seperti pembangunan jalan tol JORR (Jakarta Outer Ring Road-red) yang sudah mulai dibangun sebelum seluruh lahannya dibebaskan. akhirnya, menjadi terhambat, jelasnya.
Dari ruas jalan tol sepanjang 11 km, dibagi menjadi tiga tahap, meliputi ruas R-2; Sentul Selatan - Kedunghalang sepanjang 3,70 km, ruas R0; Kedunghalang -Simpang Yasmin 4,10 km, serta rus R1; Simpang Yasmin - Darmaga 3,20 km. Dari ketiga ruas tersebut akan dibangun dua jalan layang (fly over) di Kedung Halang dan Yasmin serta satu pintu tol di Sentul Selatan.
Prioritas pombebasan lahan saat ini adalah pada ruas R2 sepanjang 3,70 km. Setelah lahannya bebas segera kita bangun jalan tol, katanya.
Menurutnya, saat ini pemerintah pusat juga sedang melakukan lelang tender proyek pembangunan jalan tol ini. Diharapkan, pada saat lelang selesai dan pembebasan lahan juga selesai, maka bisa segera dibangun.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat, Nu'man Abdul Hakim mengatakan, pembangunan jalan tol Bogor Ring Road sudah direncanakan sejak dua tahun lalu. Tapi, karena persoalan aturan dan non teknis lainnya, membuat persiapannya menjadi lama. Aturan yang cukup berbelit-belit itu dikeluhkan oleh investor dan pelaksana, katanya.
Diakuinya, bahwa pembangunan Tol Ring Road ini, sangat rumit. kendalanya adalah persoalan regulasi Bahkan, sudah ada rencana pembangunan jalan tol, Bandung-Bogor sebanyak 12 ruas antara lain meliputi Ciawi-Sukabumi, Ciawi-Padalarang sampai ke Cileunyi.
Melintas 11 Kelurahan
Seketaris Daerah Kota Bogor H. Dody Rosadi mengatakan, sebetulnya sosialisasi dan musyawarah dengan warga yang terkena pembebasan lahannya sudah dilakukan. Namun selalu terbentur oleh harga tanah dan bangunan yang tidak cocok.
Pembangunan Tol Bogor Ring Road alan melintasi 11 Kelurahan meliputi Kelurahan Ciluwar. Cimahpar, Tanah Baru, Cibuluh. (Kecamatan Bogor Utara), Kedung Badak, Kedungjaya, Cibadak (Kecamatan Tanah Sareal) Curug Mekar, Semplak, Bubulak dan Kelurahan Margajaya (Kecamatan Bogor Barat).
Di tempat yang sama, Kepala Bagian Tata Pemerintahan Umum Pemerintah Kabupaten Bogor, Burhanuddin mengatakan, dari 11 km jalan tol yang akan dibangun, yang melintasi wilayah Kabupaten Bogor hanya sepanjang 1 km yakni mulai dari Jalan tol Jagorawi di Sentul Selatan sampai kelurahan Cipambuan di Kecamatan Babakan Madang.
Di daerah tersebut sudah lakukan pengukuran untuk pendataan awal, serta mulai dilakukan sosialisasi pada masyarakat. Tapi, saat itu masyarakat setempat meminta harga cukup tinggi. Padahal, saya sendiri belum tahu berapa pagu anggaran yang ditetapkan oleh pemerintah, katanya.
Sumber : http://www.kotabogor.go.id/index.php?Itemid=101&id=3362&option=com_content&task=view
Senin, 07 Maret 2011
Kamis, 03 Maret 2011
Bukan Untuk Sembarang Hati
Aku cinta mati padamu
Takkan sanggup aku tanpamu
Bahagiamu itu bahagiaku
Dan setiap air matamu
Itulah juga kesedihanku
Aku cinta mati padamu
Jangan pernah meragukanku
Terlalu dalam cintaku ini
Mungkin aku bisa mati
Bila harus kehilangan dirimu
Bukan untuk sembarang hati
aku katakan ini
Sungguh aku cinta kamu
Bukan untuk sembarang hati
Hingga nafas berhenti
Aku rela berlelah untukmu
Aku cinta mati padamu
Jangan pernah meragukanku
Terlalu dalam cintaku ini
Mungkin aku bisa mati
Bila harus kehilangan dirimu
Sumber : http://hotliriklagu.com/s/she/she-bukan-untuk-sembarang-hati/
Takkan sanggup aku tanpamu
Bahagiamu itu bahagiaku
Dan setiap air matamu
Itulah juga kesedihanku
Aku cinta mati padamu
Jangan pernah meragukanku
Terlalu dalam cintaku ini
Mungkin aku bisa mati
Bila harus kehilangan dirimu
Bukan untuk sembarang hati
aku katakan ini
Sungguh aku cinta kamu
Bukan untuk sembarang hati
Hingga nafas berhenti
Aku rela berlelah untukmu
Aku cinta mati padamu
Jangan pernah meragukanku
Terlalu dalam cintaku ini
Mungkin aku bisa mati
Bila harus kehilangan dirimu
Sumber : http://hotliriklagu.com/s/she/she-bukan-untuk-sembarang-hati/
Cinta
Rasa ini datang dan melekat di hati
Tiap detik ku merenung dan merasakan rasa ini
Ku berfikir apa yang terjadi dengan diriku
Dan ku bertanya apakah ini?
Semakin lama rasa ini semakin besar
Tapi ku masih ragu, apakah rasa itu?
Ku terdiam dalam hati
Apakah yang terjadi? Apakah benar rasa itu?
Dan ku mulai tersadar saat ku melihat dirimu
Rasa itu muncul dan semakin besar
Kini ku yakin, Rasa ini memang benar
Dan ini adalah rasa cinta
Dan cinta ini akan abadi slamanya.
Tiap detik ku merenung dan merasakan rasa ini
Ku berfikir apa yang terjadi dengan diriku
Dan ku bertanya apakah ini?
Semakin lama rasa ini semakin besar
Tapi ku masih ragu, apakah rasa itu?
Ku terdiam dalam hati
Apakah yang terjadi? Apakah benar rasa itu?
Dan ku mulai tersadar saat ku melihat dirimu
Rasa itu muncul dan semakin besar
Kini ku yakin, Rasa ini memang benar
Dan ini adalah rasa cinta
Dan cinta ini akan abadi slamanya.
Sabtu, 19 Februari 2011
Perkembangan Republik Indonesia Dari Tahun 1969-1974
Tahun 1969 bisa dikatakan sebagai masa akhir transisi dari Orde Lama ke Orde Baru. Inflasi akhirnya benar-benar dapat dikendalikan.Tak dapat disangkal bahwa salah satu pilar keberhasilan rezim ini adalah interaksi mereka dengan sistem ekonomi internasional yang kapitalistik. Selanjutnya Orde Baru mulai memfokuskan perhatian utamanya dari stabilisasi ekonomi menuju pembangunan dengan menetapkan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita I), untuk tahun 1969-1974. Di tahun yang sama, Orde Baru juga telah mampu menyelesaikan masalah lama dengan bergabungnya Irian sebagai provinsi ke-26 RI. Bergabungnya Irian ke pangkuan Indonesia amat direspon positif oleh pihak Barat terutama Amerika yang telah bersiap untuk mengeksploitasi SDA di wilayah itu. Amerika menyadari bahwa ancaman kekuatan massa terhadap interest ekonomi dan politiknya di bumi pertiwi ini hanya bisa dipatahkan dan dikuasai lewat pembentukan pemerintahan dictator yang dipimpin oleh kaum militer.
Stabilitas ekonomi yang telah diperoleh Orde Baru selanjutnya mulai melahirkan demokrasi dengan gaya otoriterianisme. Semua hal seolah dituntut ke dalam ide pembagunan ekonomi. Stabilitas politik diprioritaskan pada awal Orde Baru karena pengalaman ketidakstabilan sistem politik demokrasi liberal pada kurun waktu 1945-1959, bahkan juga dalam periode demokrasi terpimpin 1959-1966. Sistem politik di bawah Orde baru secara tegas diterapkan dalam konsep integralisme total. Hasilnya Soeharto tidak menginginkan adanya tempat bagi oposisi gaya Barat di alam demokrasi Pancasila. Menjelang Pemilihan Umum 1971 sangat terlihat bahwa Soeharto ingin menjadikan Golkar sebagai pemenang dalam ajang tersebut. Hal ini jelas terlihat ketika persiapan menjelang dilaksanakannya Pemilihan Umum, banyak dari pegawai pemerintah yang diarahkan untuk mendukung dan memenangkan Golkar di daerah pemilihan mereka. Golkar yang pada saat itu tidak ingin disebut sebagai partai politik akhirnya memperoleh kemenangan besar yaitu 63,8 % suara pemilih.
Orde Baru kemudian menjadi rezim yang sungguh sentralistik, terpusat pada Soeharto sebagai pengendali utama stabilitas ekonomi dan politik. Secara perlahan Soeharto mulai memasung hak-hak politik rakyatnya dengan ketat. Orde Baru juga mengisolasi masyarakat melalui perundang-undangan dan keputusan yang memungkinkan pembatasan bagi kegiatan organisasi massa. Soeharto amat gigih untuk menciptakan sistem politik terbaru demi mengatasi keragaman pandangan yang memecah belah iklim politik di tanah air. Dengan tegas, Soeharto menolak ide mengenai persaingan ideologi, baginya model politik yang demikian tidak cocok untuk Indonesia. Di lain pihak, masyarakat semakin hari semakin terasingkan dari lingkaran kekuasaan dan pembuatan kebijakan. Media massa sebagai wadah kekuatan informasi yang strategis pun dikebiri oleh pemerintah dan diposisikan menjadi kolaborator struktural bagi negara. Bagi beberapa pengkritik, seperti Goenawan Mohamad, “Kita membutuhkan suatu pemerintah pembangunan yang kuat, tapi tak boleh dilupakan, bahwa kekuatan itu juga harus ditunjukan oleh penguasa sendiri, antara lain dengan bersikap tenang menanggapi kritik”.
Munculnya Angkatan Darat ke posisi dominan yang tak tertandingi dalam pemerintahan disambut hangat oleh sebagian kecil kalangan politik sipil, sedangkan sebagian terbesar yang lain menerima itu sebagai suatu kenyataan yang tak terhindirkan. Sebagaimana diketahui, dalam doktrin TRI UBAYA GAKTI hasil seminar TNI-AD I, untuk pertama kalinya dirumuskan doktrin Dwifungsi ABRI. Bagaimana ABRI memandang peran politisnya bisa diperoleh dari penafsiran militer atas Pancasila sebagai ideologi “integralistik”. Para perwira senior menyatakan bahwa karena budaya Indonesia itu “integralistik”, maka peran sosiopolitis ABRI yang permanen bisa dibenarkan. Selanjutnya Soeharto sangat selektif dalam memelih pembantu dekatnya antara lain dengan kriteria “elite militer”, muncul nama-nama seperti Ali Moertopo, Soedjono Humardani, Soedomo, Sutopo Juwono, dan Soemitro dalam jajaran pemerintahan elite negeri ini. Tak jarang terjadi konflik dalam tubuh pemerintahan Soeharto akibat penumpukan para petinggi militer yang ia ciptakan sendiri.
Persaingan faksi militer di dalam pemerintahan terbawa sampai ke urusan publik, terutama mengenai penanaman modal Jepang di Indonesia. Jepang mengambil 53% ekspor Indonesia pada tahun 1973 (71% diantaranya berupa minyak) dan memasok lebih dari 29% impor Indonesia. Di samping itu, Jepang lebih menonjol karena investasi mereka yang meningkat pada industri pabrik di Jawa, yang justru menghambat pertumbuhan ekonomi para pengusaha pribumi. Jepang dipandang secara luas sebagai pemeras ekonomi Indonesia, dibantu oleh orang yang dekat dengan istana kepresidenan. Kritik dilontarkan terutama kepada Ali Moertopo dan salah satu kolega terdekat Soeharto lainnya yaitu Mayjen. Sudjono Humardani. Keduanya dianggap sebagai penasihat kebijakan Presiden dan juga perantara bagi para investor asing (terutama Jepang) yang mencari kebaikan hati pemerintah.
Kedatangan PM Jepang Tanaka Kakuei ke Jakarta pada Januari 1974 dijadikan momentum bagi para Mahasiswa untuk demonstrasi menolak masuknya modal asing. Mahasiswa merencanakan menyambut kedatangannya dengan berdemonstrasi di Halim Perdanakusuma. Karena dijaga ketat, rombongan Mahasiswa tidak berhasil menorobos masuk pangkalan udara tersebut. Hal tersebut menimbulkan kemarahan para Mahasiswa dan puncaknya menimbulkan kerusuhan serta huru – hara di Jakarta. Bagi Soeharto kerusuhan Malari telah mecoreng keningnya karena peristiwa itu terjadi di depan tamu Negara, PM Jepang. Banyak opini yang berkembang bahwa peristiwa kerusuhan tersebut hanyalah persaingan faksi ditubuh elite militer. Rivalitas utama terjadi antara Soemitro dengan Ali Moertopo. Presiden Soeharto sendiri pada saat itu lebih cenderung merapat kepada kubu Ali Moertopo sang anak emasnya. Hal ini terbukti dengan pencopotan Soemitro sebagai Pangkomkabtib dan didepaknya Sutopo Juwono dari kepala Bakin.
Rasa tidak puas masyarakat terhadap rezim Orde Baru mulai merebak di pertengahan tahun 1970-an. Kritik yang muncul ketika itu mengenai kebijakan pembangunan yang menurut mereka terlampau kapitalistik dan hanya pertumbuhan ekonomi ketimbang pemerataan. Demokrasi dalam kehidupan bernegara juga ditekan oleh pemerintah yang cenderung semakin otoriter. Pers dan media massa dibatasi perannya lewat kebijakan pembreidelan. Masyarakat ditakuti-takuti oleh aparat keamanan terutama militer yang telah menguasai seluruh kehidupan sipil, lalu teror yang sering dilakukan terhadap kaum intelektual di berbagai kampus.
Selanjutnya semua hal ini mejadi sebuah sikap status quo yang amat dinikmati oleh Soeharto beserta pembantu-pembantunya dalam tahapan menuju kekuasaan yang terus mereka pegang selama puluhan tahun berikutnya.
Stabilitas ekonomi yang telah diperoleh Orde Baru selanjutnya mulai melahirkan demokrasi dengan gaya otoriterianisme. Semua hal seolah dituntut ke dalam ide pembagunan ekonomi. Stabilitas politik diprioritaskan pada awal Orde Baru karena pengalaman ketidakstabilan sistem politik demokrasi liberal pada kurun waktu 1945-1959, bahkan juga dalam periode demokrasi terpimpin 1959-1966. Sistem politik di bawah Orde baru secara tegas diterapkan dalam konsep integralisme total. Hasilnya Soeharto tidak menginginkan adanya tempat bagi oposisi gaya Barat di alam demokrasi Pancasila. Menjelang Pemilihan Umum 1971 sangat terlihat bahwa Soeharto ingin menjadikan Golkar sebagai pemenang dalam ajang tersebut. Hal ini jelas terlihat ketika persiapan menjelang dilaksanakannya Pemilihan Umum, banyak dari pegawai pemerintah yang diarahkan untuk mendukung dan memenangkan Golkar di daerah pemilihan mereka. Golkar yang pada saat itu tidak ingin disebut sebagai partai politik akhirnya memperoleh kemenangan besar yaitu 63,8 % suara pemilih.
Orde Baru kemudian menjadi rezim yang sungguh sentralistik, terpusat pada Soeharto sebagai pengendali utama stabilitas ekonomi dan politik. Secara perlahan Soeharto mulai memasung hak-hak politik rakyatnya dengan ketat. Orde Baru juga mengisolasi masyarakat melalui perundang-undangan dan keputusan yang memungkinkan pembatasan bagi kegiatan organisasi massa. Soeharto amat gigih untuk menciptakan sistem politik terbaru demi mengatasi keragaman pandangan yang memecah belah iklim politik di tanah air. Dengan tegas, Soeharto menolak ide mengenai persaingan ideologi, baginya model politik yang demikian tidak cocok untuk Indonesia. Di lain pihak, masyarakat semakin hari semakin terasingkan dari lingkaran kekuasaan dan pembuatan kebijakan. Media massa sebagai wadah kekuatan informasi yang strategis pun dikebiri oleh pemerintah dan diposisikan menjadi kolaborator struktural bagi negara. Bagi beberapa pengkritik, seperti Goenawan Mohamad, “Kita membutuhkan suatu pemerintah pembangunan yang kuat, tapi tak boleh dilupakan, bahwa kekuatan itu juga harus ditunjukan oleh penguasa sendiri, antara lain dengan bersikap tenang menanggapi kritik”.
Munculnya Angkatan Darat ke posisi dominan yang tak tertandingi dalam pemerintahan disambut hangat oleh sebagian kecil kalangan politik sipil, sedangkan sebagian terbesar yang lain menerima itu sebagai suatu kenyataan yang tak terhindirkan. Sebagaimana diketahui, dalam doktrin TRI UBAYA GAKTI hasil seminar TNI-AD I, untuk pertama kalinya dirumuskan doktrin Dwifungsi ABRI. Bagaimana ABRI memandang peran politisnya bisa diperoleh dari penafsiran militer atas Pancasila sebagai ideologi “integralistik”. Para perwira senior menyatakan bahwa karena budaya Indonesia itu “integralistik”, maka peran sosiopolitis ABRI yang permanen bisa dibenarkan. Selanjutnya Soeharto sangat selektif dalam memelih pembantu dekatnya antara lain dengan kriteria “elite militer”, muncul nama-nama seperti Ali Moertopo, Soedjono Humardani, Soedomo, Sutopo Juwono, dan Soemitro dalam jajaran pemerintahan elite negeri ini. Tak jarang terjadi konflik dalam tubuh pemerintahan Soeharto akibat penumpukan para petinggi militer yang ia ciptakan sendiri.
Persaingan faksi militer di dalam pemerintahan terbawa sampai ke urusan publik, terutama mengenai penanaman modal Jepang di Indonesia. Jepang mengambil 53% ekspor Indonesia pada tahun 1973 (71% diantaranya berupa minyak) dan memasok lebih dari 29% impor Indonesia. Di samping itu, Jepang lebih menonjol karena investasi mereka yang meningkat pada industri pabrik di Jawa, yang justru menghambat pertumbuhan ekonomi para pengusaha pribumi. Jepang dipandang secara luas sebagai pemeras ekonomi Indonesia, dibantu oleh orang yang dekat dengan istana kepresidenan. Kritik dilontarkan terutama kepada Ali Moertopo dan salah satu kolega terdekat Soeharto lainnya yaitu Mayjen. Sudjono Humardani. Keduanya dianggap sebagai penasihat kebijakan Presiden dan juga perantara bagi para investor asing (terutama Jepang) yang mencari kebaikan hati pemerintah.
Kedatangan PM Jepang Tanaka Kakuei ke Jakarta pada Januari 1974 dijadikan momentum bagi para Mahasiswa untuk demonstrasi menolak masuknya modal asing. Mahasiswa merencanakan menyambut kedatangannya dengan berdemonstrasi di Halim Perdanakusuma. Karena dijaga ketat, rombongan Mahasiswa tidak berhasil menorobos masuk pangkalan udara tersebut. Hal tersebut menimbulkan kemarahan para Mahasiswa dan puncaknya menimbulkan kerusuhan serta huru – hara di Jakarta. Bagi Soeharto kerusuhan Malari telah mecoreng keningnya karena peristiwa itu terjadi di depan tamu Negara, PM Jepang. Banyak opini yang berkembang bahwa peristiwa kerusuhan tersebut hanyalah persaingan faksi ditubuh elite militer. Rivalitas utama terjadi antara Soemitro dengan Ali Moertopo. Presiden Soeharto sendiri pada saat itu lebih cenderung merapat kepada kubu Ali Moertopo sang anak emasnya. Hal ini terbukti dengan pencopotan Soemitro sebagai Pangkomkabtib dan didepaknya Sutopo Juwono dari kepala Bakin.
Rasa tidak puas masyarakat terhadap rezim Orde Baru mulai merebak di pertengahan tahun 1970-an. Kritik yang muncul ketika itu mengenai kebijakan pembangunan yang menurut mereka terlampau kapitalistik dan hanya pertumbuhan ekonomi ketimbang pemerataan. Demokrasi dalam kehidupan bernegara juga ditekan oleh pemerintah yang cenderung semakin otoriter. Pers dan media massa dibatasi perannya lewat kebijakan pembreidelan. Masyarakat ditakuti-takuti oleh aparat keamanan terutama militer yang telah menguasai seluruh kehidupan sipil, lalu teror yang sering dilakukan terhadap kaum intelektual di berbagai kampus.
Selanjutnya semua hal ini mejadi sebuah sikap status quo yang amat dinikmati oleh Soeharto beserta pembantu-pembantunya dalam tahapan menuju kekuasaan yang terus mereka pegang selama puluhan tahun berikutnya.
http://sejarahunj.blogspot.com/2010/10/orde-baru-pengorbanan-demokrasi.html
Kamis, 10 Februari 2011
puisi untuk mama
mama bukan org yg bgitu pandai dalam teknologi masa kini
mama bukan org yg gaul dan bs berbahasa asing dgn fluently
mama selalu memarahi aku disaat aku telat pulang
dia memarahi ku saat aku melakukn ksalahan..
mama terkadang terlihat bgitu kolot nya di dpn umum..
mama trkdng tdk mengerti masa muda ku..
dan mamaku terkadang m'buat ku kesal dan sangat kuno..
Tapi aku bangga pada mamaku
aku sadar aku tdk pantas utk mengkritik sgala kkrg'an mamaku..
Tdk pantas utk ku..kesal padanya hnya krna hal semacam itu..
dan tdk pantas aku menuntutnya agar dia bs sprti..
Krna aku tau..mama telah melahirkn aku..mendidik,merawat dan membesarkan ku..
Tnpa melihat sgala ƙ'krgan ku.
Sorry mama
Buat sgala kesalahan ku
I love you mama
mama bukan org yg gaul dan bs berbahasa asing dgn fluently
mama selalu memarahi aku disaat aku telat pulang
dia memarahi ku saat aku melakukn ksalahan..
mama terkadang terlihat bgitu kolot nya di dpn umum..
mama trkdng tdk mengerti masa muda ku..
dan mamaku terkadang m'buat ku kesal dan sangat kuno..
Tapi aku bangga pada mamaku
aku sadar aku tdk pantas utk mengkritik sgala kkrg'an mamaku..
Tdk pantas utk ku..kesal padanya hnya krna hal semacam itu..
dan tdk pantas aku menuntutnya agar dia bs sprti..
Krna aku tau..mama telah melahirkn aku..mendidik,merawat dan membesarkan ku..
Tnpa melihat sgala ƙ'krgan ku.
Sorry mama
Buat sgala kesalahan ku
I love you mama
Tahun Baru Imlek
Tahun Baru Imlek
Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa. Perayaan tahun baru imlek dimulai di hari pertama bulan pertama (Chinese: 正月; pinyin: zhēng yuè) di penaggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh 十五冥 元宵节 di tanggal kelima belas (pada saat bulan purnama). Malam tahun baru imlek dikenal sebagai Chúxī yang berarti "malam pergantian tahun".
Di Tiongkok, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan Tahun Baru Cina sangat beragam. Namun, kesemuanya banyak berbagi tema umum seperti perjamuan makan malam pada malam Tahun Baru, serta penyulutan kembang api. Meskipun penanggalan Cina secara tradisional tidak menggunakan nomor tahun malar, penanggalan Tionghoa di luar Tiongkok seringkali dinomori dari pemerintahan Huangdi. Setidaknya sekarang ada tiga tahun berangka 1 yang digunakan oleh berbagai ahli, sehingga pada tahun 2009 masehi "Tahun Tionghoa" dapat jadi tahun 4707, 4706, atau 4646.
Dirayakan di daerah dengan populasi suku Tionghoa, Tahun Baru Imlek dianggap sebagai hari libur besar untuk orang Tionghoa dan memiliki pengaruh pada perayaan tahun baru di tetangga geografis Tiongkok, serta budaya yang dengannya orang Tionghoa berinteraksi meluas. Ini termasuk Korea, Mongolia, Nepal, Bhutan, Vietnam, dan Jepang (sebelum 1873). Di Daratan Tiongkok, Hong Kong, Macau, Taiwan, Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan negara-negara lain atau daerah dengan populasi Han Cina yang signifikan, Tahun Baru Cina juga dirayakan, dan pada berbagai derajat, telah menjadi bagian dari budaya tradisional dari negara-negara tersebut.
Angpau
Angpau (Hanzi: 紅包, hanyu pinyin: hong bao) adalah bingkisan dalam amplop merah yang biasanya berisikan sejumlah uang sebagai hadiah menyambut tahun baru Imlek.
Namun angpau sebenarnya bukan hanya monopoli perayaan tahun baru Imlek semata karena angpau melambangkan kegembiraan dan semangat yang akan membawa nasib baik, sehingga angpau juga ada di dalam beberapa perhelatan penting seperti pernikahan, ulang tahun, masuk rumah baru dan lain-lain yang bersifat suka cita.
Jumlah uang yang ada dalam sebuah amplop angpau bervariasi. Untuk perhelatan yang bersifat suka cita biasanya besarnya dalam angka genap, angka ganjil untuk kematian. Oleh karena angka 4 terasosiasi dengan ketidak beruntungan - pelafalan angka 4 bisa berarti "mati" - maka jumlah uang dalam amplop angpau tidak berisi 4. Walaupun demikian, angka 8 terasosiasi untuk keberuntungan - pelafalan angka 8 berarti "kekayaan". Makanya jumlah uang dalam amplop angpau seringkali merupakan kelipatan 8.
href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_Baru_Imlek#Sejarah">
Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa. Perayaan tahun baru imlek dimulai di hari pertama bulan pertama (Chinese: 正月; pinyin: zhēng yuè) di penaggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh 十五冥 元宵节 di tanggal kelima belas (pada saat bulan purnama). Malam tahun baru imlek dikenal sebagai Chúxī yang berarti "malam pergantian tahun".
Di Tiongkok, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan Tahun Baru Cina sangat beragam. Namun, kesemuanya banyak berbagi tema umum seperti perjamuan makan malam pada malam Tahun Baru, serta penyulutan kembang api. Meskipun penanggalan Cina secara tradisional tidak menggunakan nomor tahun malar, penanggalan Tionghoa di luar Tiongkok seringkali dinomori dari pemerintahan Huangdi. Setidaknya sekarang ada tiga tahun berangka 1 yang digunakan oleh berbagai ahli, sehingga pada tahun 2009 masehi "Tahun Tionghoa" dapat jadi tahun 4707, 4706, atau 4646.
Dirayakan di daerah dengan populasi suku Tionghoa, Tahun Baru Imlek dianggap sebagai hari libur besar untuk orang Tionghoa dan memiliki pengaruh pada perayaan tahun baru di tetangga geografis Tiongkok, serta budaya yang dengannya orang Tionghoa berinteraksi meluas. Ini termasuk Korea, Mongolia, Nepal, Bhutan, Vietnam, dan Jepang (sebelum 1873). Di Daratan Tiongkok, Hong Kong, Macau, Taiwan, Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan negara-negara lain atau daerah dengan populasi Han Cina yang signifikan, Tahun Baru Cina juga dirayakan, dan pada berbagai derajat, telah menjadi bagian dari budaya tradisional dari negara-negara tersebut.
Angpau
Angpau (Hanzi: 紅包, hanyu pinyin: hong bao) adalah bingkisan dalam amplop merah yang biasanya berisikan sejumlah uang sebagai hadiah menyambut tahun baru Imlek.
Namun angpau sebenarnya bukan hanya monopoli perayaan tahun baru Imlek semata karena angpau melambangkan kegembiraan dan semangat yang akan membawa nasib baik, sehingga angpau juga ada di dalam beberapa perhelatan penting seperti pernikahan, ulang tahun, masuk rumah baru dan lain-lain yang bersifat suka cita.
Jumlah uang yang ada dalam sebuah amplop angpau bervariasi. Untuk perhelatan yang bersifat suka cita biasanya besarnya dalam angka genap, angka ganjil untuk kematian. Oleh karena angka 4 terasosiasi dengan ketidak beruntungan - pelafalan angka 4 bisa berarti "mati" - maka jumlah uang dalam amplop angpau tidak berisi 4. Walaupun demikian, angka 8 terasosiasi untuk keberuntungan - pelafalan angka 8 berarti "kekayaan". Makanya jumlah uang dalam amplop angpau seringkali merupakan kelipatan 8.
href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_Baru_Imlek#Sejarah">
Rabu, 22 Desember 2010
Dampak dan solusi dari kemajuan teknologi
Teknologi pada masa ini sangat berpengeruh terhadap perusahaan. Di banyak perusahan banyak yang menggunakan teknologi sebagai tenaga kerja manusia. Kondisi teknologi di masa sekarang dapat di katakan semakin maju dan berkembang. Dampak dari teknologi yang semakin berkembang adalah banyak persusahaan perusahaan yang menggunakan teknologi sebagai pegganti tenaga kerja manusia. Solusinya kita sebagai sumber daya manusia harus memiliki keterampilan yang cukup dan berpengetahuan luas agar kita tetap memiliki perkerjaan.
Langganan:
Postingan (Atom)


